air dari kelopak tak pernah menolak tuk menetes setiap kita bercengkerama membuka pintu diri tuk menerima bahwa manusia itu semua biasa figuran pun tak mengapa karena pemeran utama tak bisa ku punya dan miskin itu tidak ada yang ada syukurku lebihkan saja angkatlah itu yang ku punya entah karya ataupun hanya sebatas rasa semangat saja mulailah dulu sebelum waktu menghabisimu hanya kita yang tahu, apa di dalam diri ini dalam diri manusia yang serba terbatas banyak hal yang tidak dapat dikendalikan dan tidak semua dapat kita terima semoga ke depan senyum dapat selalu menggantikan posisi tangisan yang sering dikeluarkan
Semua firasat dalam rongga dada Telah terusap tajam melewati harumnya kenyataan Jiwa ini tau jika rembulan tak akan menganggapku lagi Aku hanya sebagai manusia penghibur lara Sebagai obat yang punya kadaluarsa Sebagai angin yang dapat lewat kapan saja Dan dapat diabaikan semau raga Kelapangan sebuah jiwa tertatih pelan Digandeng dengan seribu tangan kawan Yang siap memberi pangkuan Menerima segala omongan Dengan kekosongan awalan Menitih sebuah tetesan kesedihan Ketika tak lagi dijadikan acuan Hanya menjadi peran bantuan Tak ada lagi jalan Tak adalagi sebuah perasaan Olehnya untuk jiwa yang sepi dan bertebaran Gaduh melanda jasa Mengingkari sumpah seorang hamba Ingin mengakhiri kata Selamat tinggal seorang jiwa Yang baru saja aku sayang dan aku kenang Semoga kita akan dipertemukan Di kala ratusan purnama telah menghilang -MZI-