Langsung ke konten utama

Postingan

BERCAKAP DENGAN DIRI

 air dari kelopak tak pernah menolak tuk menetes setiap kita bercengkerama membuka pintu diri tuk menerima bahwa manusia itu semua biasa figuran pun tak mengapa karena pemeran utama tak bisa ku punya dan miskin itu tidak ada yang ada syukurku lebihkan saja angkatlah itu yang ku punya entah karya ataupun hanya sebatas rasa semangat saja mulailah dulu sebelum waktu menghabisimu hanya kita yang tahu, apa di dalam diri ini dalam diri manusia yang serba terbatas banyak hal yang tidak dapat dikendalikan dan tidak semua dapat kita terima semoga ke depan senyum dapat selalu menggantikan posisi tangisan yang sering dikeluarkan
Postingan terbaru

Untuk Jiwa yang Tlah Hilang

Semua firasat dalam rongga dada Telah terusap tajam melewati harumnya kenyataan Jiwa ini tau jika rembulan tak akan menganggapku lagi Aku hanya sebagai manusia penghibur lara Sebagai obat yang punya kadaluarsa Sebagai angin yang dapat lewat kapan saja Dan dapat diabaikan semau raga Kelapangan sebuah jiwa tertatih pelan Digandeng dengan seribu tangan kawan Yang siap memberi pangkuan Menerima segala omongan Dengan kekosongan awalan Menitih sebuah tetesan kesedihan Ketika tak lagi dijadikan acuan Hanya menjadi peran bantuan Tak ada lagi jalan Tak adalagi sebuah perasaan Olehnya untuk jiwa yang sepi dan bertebaran Gaduh melanda jasa Mengingkari sumpah seorang hamba Ingin mengakhiri kata Selamat tinggal seorang jiwa Yang baru saja aku sayang dan aku kenang Semoga kita akan dipertemukan Di kala ratusan purnama telah menghilang  -MZI-

Keteguhan

Awan kecil berdiri tegar di antara awan hitam Hanya membawa bekal kesucian Melawan seribu lawan Yang membawa banyak kekayaan Tak dibolehkan dirinya untuk berhenti Mencari jati diri ini menjadi tinggi Jauh dari jalan putus asa Karena ini menyatu dengan cita cita Haram bagi pedang ini masuk dalam tubuh ini Hanya karena dia yang lebih besar dan serba ada Ku Ingat!! Tuhan telah menyiapkan tempat yang indah Bagi kaumnya yang selalu ikhlas dan tabah Nikmatilah air yang berdansa ini Melambai lambai sayu menjalani kenyataan Tak harus melawan arus Ikuti saja kemana jalan kan membawa

Santapan Siang

Ketika suara bising ini kembali datang Ketika coretan itu kembali pulang Ketika besitan ini kembali nyata Ketika sang surya tengah menatap Sungguh kenikmatan tiada tara Terjalin mesra diantara mereka Membawa senyum gembira Merangkul satu demi satu Demi cita cita luhur Kami ucapkan satu janji Dalam satu hati Berkiprah untuk negeri ini Menjadi negeri tertinggi
Terik semakin menyambar Hamparan hitam memanjang Seperti bara yang dibiarkan berserakan Angin menyapa seperti kilat Tak terhitung waktumu Semua berkelimang harta Dengan hati tak berdaya Memandang ke atas Bak seribu nyawa.. Jarum terus menusuk awan Tak pernah berbalik Atau entah kapan terbalik Melihat semua sadar Akan tetesan mata penderitaan Rintih lapar terselimuti senyum lebar Dijunjung bulatnya bumi tak berawan Bahkan ozon melayang Lalat hinggap tak beradab Tapi semua tak teranggap Hilang musnah dan sudah Lingkup indah telah merasuk Ke dalam imajiner penerus bangsa Tapi wacana demi wacana bercermin Air minyak bersatu
                 HUJAN Pucat pekat wajahmu hari ini Apakah besok sama Kenistaan apa yang telah ada Semangat berkobar... Kini Terbang bebas menuju lembah Hanya diam dan merenung Menekuk dan melipat Bersandar dan bertudung Layaknya barang kiriman siap antar Menatap tajam ke wajahmu Yang pucat dan membiru Atau bukan biru Melainkan abu - abu.. Ya, abu - abu... Itu dirimu... Hal yang tabu Saat aku memandangmu Tetesan air dari dirimu Tak bisa aku hentikan Hanya dapat aku tatap Dan rasakan Pesona yang indah nan megah Menciptakan sepi nan sunyi Dalam hati yang tentram ini Kata demi kata keluar Tersendiri... Hanya tulisan dan coretan.. Melodi tak tertahan Saat aliran air menyelinap Pada telingaku ini.. Tuhan... Sungguh indah karyamu Tak kuasa ku memandangnya Walapun sangat gembira rasanya Tak berkutik hati kecewa karena semua Susah kemana.. -Muchammad Zidni Ilman-
ENTAH Kau mengahmpiriku lagi Tak bosan kah engkau selalu begitu Ketika fajar menyapa Hingga ia tenggelam Menjadi malam Kau selalu ada Ingin hasrat kukendalikanmu Apa daya tak kuasa... Hanya kau Hanya kau yang memikat Senyum dan getar Tawa nan indah Sayup menenggelamkan nyawa Terbang melayang Berputar ber revolusi Berrotasi... Tinggi dan tinggi Tapi tak membuat mati Jatuh... Berdiri... Tidur... Semua nyaman karena adamu Kesucian yang ada Dalam benakmu Membuat iri Pedang mengiris hati Pisau merobek mata Dan jantung pecah karena iri padamu Saat kau pergi Hampa kembali terasa Manis, asin, asam, dan pedas Hanya imajinasi Hambar, hambar, dan hambar Suatu ambigu karenamu Yang abstrak