Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Santapan Siang

Ketika suara bising ini kembali datang Ketika coretan itu kembali pulang Ketika besitan ini kembali nyata Ketika sang surya tengah menatap Sungguh kenikmatan tiada tara Terjalin mesra diantara mereka Membawa senyum gembira Merangkul satu demi satu Demi cita cita luhur Kami ucapkan satu janji Dalam satu hati Berkiprah untuk negeri ini Menjadi negeri tertinggi
Terik semakin menyambar Hamparan hitam memanjang Seperti bara yang dibiarkan berserakan Angin menyapa seperti kilat Tak terhitung waktumu Semua berkelimang harta Dengan hati tak berdaya Memandang ke atas Bak seribu nyawa.. Jarum terus menusuk awan Tak pernah berbalik Atau entah kapan terbalik Melihat semua sadar Akan tetesan mata penderitaan Rintih lapar terselimuti senyum lebar Dijunjung bulatnya bumi tak berawan Bahkan ozon melayang Lalat hinggap tak beradab Tapi semua tak teranggap Hilang musnah dan sudah Lingkup indah telah merasuk Ke dalam imajiner penerus bangsa Tapi wacana demi wacana bercermin Air minyak bersatu
                 HUJAN Pucat pekat wajahmu hari ini Apakah besok sama Kenistaan apa yang telah ada Semangat berkobar... Kini Terbang bebas menuju lembah Hanya diam dan merenung Menekuk dan melipat Bersandar dan bertudung Layaknya barang kiriman siap antar Menatap tajam ke wajahmu Yang pucat dan membiru Atau bukan biru Melainkan abu - abu.. Ya, abu - abu... Itu dirimu... Hal yang tabu Saat aku memandangmu Tetesan air dari dirimu Tak bisa aku hentikan Hanya dapat aku tatap Dan rasakan Pesona yang indah nan megah Menciptakan sepi nan sunyi Dalam hati yang tentram ini Kata demi kata keluar Tersendiri... Hanya tulisan dan coretan.. Melodi tak tertahan Saat aliran air menyelinap Pada telingaku ini.. Tuhan... Sungguh indah karyamu Tak kuasa ku memandangnya Walapun sangat gembira rasanya Tak berkutik hati kecewa karena semua Susah kemana.. -Muchammad Zidni Ilman-
ENTAH Kau mengahmpiriku lagi Tak bosan kah engkau selalu begitu Ketika fajar menyapa Hingga ia tenggelam Menjadi malam Kau selalu ada Ingin hasrat kukendalikanmu Apa daya tak kuasa... Hanya kau Hanya kau yang memikat Senyum dan getar Tawa nan indah Sayup menenggelamkan nyawa Terbang melayang Berputar ber revolusi Berrotasi... Tinggi dan tinggi Tapi tak membuat mati Jatuh... Berdiri... Tidur... Semua nyaman karena adamu Kesucian yang ada Dalam benakmu Membuat iri Pedang mengiris hati Pisau merobek mata Dan jantung pecah karena iri padamu Saat kau pergi Hampa kembali terasa Manis, asin, asam, dan pedas Hanya imajinasi Hambar, hambar, dan hambar Suatu ambigu karenamu Yang abstrak
             Jeritan Hasrat ingin melempar tawa Tapi semut pun tak kuasa Saat melihat tikus dan anjing saling bersaut Mengolok olok si putih mungil Surya nampak murung Dan sapa si hijau tak nampak lagi Hanya menyendiri Di sudut ruangan Mengarah angin datang Berbalik surya memandang Ocehan ramai terdengar Mengelilingi arah si sucil Hanya merunduk Menjerit dalam hati Ingin memecah isi bumi Menunggu air datang Menyiram wajah kotor Dan bergegas sujud Menghadap Sang Pencipta Berdoa dan berusaha
Laju pandangku Kini mulai melambat Sempit terbesit parit Tanpa semak tetapi sesak Akan kubuang tetapi mengenang Tak kuasa bila ditahan Esok kan datang Entah dengan senyuman Atau bahkan raungan Aku tak paham Apa semua di balik rahasia Tuhan Bak menunggu antrean Tetes demi tetes Detik demi detik Tak terasa lonceng berbunyi Buku tertutup Malaikat hampir menjemput Hanya ada rasa sakit Bagi kita yang lupa Akan kuasa-Nya Kita ini milik-Nya Sungguh congkak Bila kita membusung di atas tanah Tanah telah bersumpah Kini kau dapat menginjakku Tapi nanti akan ku makan Dalam perutku oleh cacing Dan segala kawannya di sana
speed of view Now start to slow down Terbesit narrow trench Without bush but crowded Will I threw but remember No power when arrested Tomorrow will come Either with a smile Or even roar I do not understand What is the secret behind all God Tub waiting queue Dropwise The seconds Not feel the bell rang closed book Angel almost invite There is only pain For those of us who forget His power We belong to Him It supercilious When we swelled on the land Land has sworn Now you can jump on me But it will be by eating In my stomach worms And all his friends there
   Harmony Love Moon did not reveal his smile Sparkling lights, No more staring Only a ray of light From the corner of the room ... Standing lamp with alacrity Temara Help light up the night Waking not miss anything Keep walking alone pen Delivered to the owner's heart With a thousand wings mwngantarkan For a long time already lost Whispered the strains of longing Passionate invited to visit Entertaining evening breeze Ready obstruct warmth I saw the clouds will all agree this Because a piece of the truth from me And the tears flowing from your eyes faint There was no rhyme lovely this time Since it has been consumed by the fire Who are with me here Against the wind Gansu night Worried now beginning to disappear Since the arrival of cognate Harmoni Harmoni night
Bisikan sore terlantun Dari desiran pasir dari atas langit Yang turun secara tak sengaja Mengenai seluruh semesta Menjadi potret mengesankan Di dalam mimpi manusia yang kekurangan Oh, malang memang Sungguh nasib yang kerap menerpa orang Tak disangka datang dari arah mana Tanpa disiapkan seberkas penjagaan Tidak saat fajar bersinar Tidak pula saat bulan tersenyum lebar
              Pengorbanan Surya hari ini masih sama seperti kemarin Meninggalkan seberkas kelalaian dalam jiwa Membentuk coretan pena di atas samudera Rasa ingin tergeletak satu jalan Hingga fajar tak lagi datang Jeruji jeruji membawakanku terbang Ke dalam sanubari ruang mimpi Menusuk celah kerindangan hitam Bersama kesucian Berdiri kokoh Untuk sebentar lagi tumbang Oh malang.. Nasib orang tua itu Mengucurkan berliter liter keringatnya Hanya untuk pahlawan hatinya
MOTIVASI UNTUK MAJU Meraih kebahagiaan di ufuk barat Ketika melihat megamu yang indah Menggugurkan hati yang gundah Menjadi seutuh buah Buah pengharapan Dan buah keselamatan Mendaki cita dengan usaha Tak tertandingi bak seribu nyawa Menyongsong esok yang ceria Meninggalkan kelamnya jiwa #SorePenuhRintik Mengusap tetesan hujan di pipi Menahan amarah dari lubuk hati Bukannya saya tidak bisa memilih Tetapi memilah itu jauh lebih susah
        Melodi Malam Sendu Berfikir keras mencari titik terang Mengusut seberapa besar halangan Yang menjadi rintangan dalam perang Api yang akan padam Menghasilkan debu tak berguna Untuk menunjukan jalan Ke mana kita harus mengayuh Terus menerus menyisir sudut bumi Mengitari seberkas sinar Yang memancar dari sebuah sungai Seakan menjadi sebuah pertanda Adanya kehidupan yang akan bahagia Apabila melangkah kesana
           Asaku Untukmu Menatap langit penuh bintang Dengan bersandar sebuah batang Yang menjulang tinggi dan terbang Menciptakan impian Bagi para petualang Petualang menyusuri tepian pantai Menyongsong malam tak bertuan Hingga siang tak bergandengan Tak ada kata menyesal Tak ada kata akhir Tak ada kata terlambat Sebelum raga menyatu dengan tanah Gerbang dengan penuh cahaya Menanti kita dipenghujung jalan Jalan dengan penuh rintangan Untuk mengayuh lebih dalam Berjalan 1000 langkah ke depan Tanpa menengok ke belakang Tak ada kata surut Yang kita miliki adalah guntur dan badai Siap menerjang kegelisahan Dipelupuk hati yang tercemar Tercemar sebuah hasutan Hasutan dalam bisikan Meronta dan menenggelamkan semua usaha Melawan dan melawan Melalui seribu jalan Tanpa harus memandang liang Dan memikirkan sarang Bergandengan Dan terus bersandar Bersama dalam pundak persahabatan Melawan derasnya ombak kehidupan Sampai kita ber...
         Kesunyian Ketika semua telah lenyap Kini kumerasa kehilangaan Kehilangan semuanya Hanya sepi dan suara suara kecil Tak ad yang istimewa Tapi hanya kedipan mata Menatap indahnya mega Walaupun dera tak kunjung sirna Bayang semu melintas Dan mengganggu Hingga nafas tak menetes Air tak berhembus Dan sang surya menatap lemah Yang aku punya sekarang hanya kata kata Keluar untuk bersahaja Menemani hari tua Bersama segelas tawa Bergejolak angin rindu Yang menggebu Menuju rakit saktii Membawa tubuh menyebrangi samudera Membisu tanpa kata Hanya jiwa mesra di raga Menjadi gelimang asmara Teresipu malu lekuk wajahhmu Menjadikan inspirasi bagi insan Agar tak akan padam Sebuah keikhlasan
             Keluh Kesahkku Kekeliruanku semakin menggila bercampur dengan keruhnya tetesan air mata mengkhayal sampai ke angkasa memetik bintang dan menguasai segalanya Tapi itu hanya batu yang terkena angin dan badai inginnya tuk bangkit,namun itu sirna hanya ucapan tanpa pembuktian hanya hujan tanpa air yang menetes desak bisikan si pengganggu membuatnya semakin tersesat memikul beban semakin berat hanya keindahan yang ingin dalam genggaman harus kukembalikan ke tempat yang paling sempurna tempat kau berteduuh dan kau berfikir mengeluarkan manfaat tanpa memikirkan sebuah bintang tetapi rasa nyaman dan bahagia yang engkau inginkan
                       Menanti Tanpa Harapan Terlalu banyak perasaan yang aku buang dan pikiran yang aku tinggal Tak mencoba untuk aku cerna dan aku raba Dimana akal ku ini, Terlempar ke belantara semak ilalang di malam hari Tak ada waktu lagi menunggu shubuh menyapa Tak ada waktu lagi untuk berkata Tak ada waktu lagi untuk berdusta Ingin ku berteriak ke dalam goa Melepas pesona dalam jiwa sedalam dalamnya
               Laksana Kayu Rapuh Tak mengerti apa yang ingin ku utarakan Semua terasa berbeda Apakah ini akan berjalan lama? Apakah ini akan terus menjelma Tak mengerti apa yang dapat aku ucapkan Sepatah kata pun aku tak bisa Terus mencari sebuah kata tak bermakna Untuk mendalami isi hati dia Tak mengerti apa isi hati ini Tak dapat tenang hingga siang hari Mencari jalan apa yang sedang dilewati Untuk memutuskan apa yang harus aku jalani Terus menghantui dalam diri ini Bayang bayang hitam abu abu itu Yang dapat menikam ku terlalu dalam Sampai terhanyut ku dalam danau kesunyian Sadarkan aku tentang diriku Hanya sebatang kayu rapuh tak bermakna Ingin mencoba menjadi tiang penyangga rumah Miris alangkah miris diriku ini Tak pantas aku menjadi penyempurnanya Yang aku lakukan hanya bisa memandang Dan merasakan dahsyatnya aura jiwanya Melalui jendala tawa tanpa lara